Galih el Fatehah :: New Order of The Ages


Distorsi Pembela Rakyat…
June 2, 2008, 2:11 am
Filed under: Soup Almawaqif

apa harus dengan kekerasan mas/mba?
jadi mau bela rakyat atau menyengsarakan rakyat mas/mba?
hampir sebagian mahasiswa negeri ini lebih suka menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan…
Negara ini seperti sarang para pelaku kriminal
gak pemimpinnya, gak mahasiswanya… “Lagi Sakit!”

-yang muda mabok yang tua korup-

Parah banget!!! Like father like son lho, mungkin memang para pemimpinnya juga musti dibenahi dulu,
tapi mestinya juga sebagai calon pemimpin(mahasiswa) musti bisa mencari perubahan yang lebih baik bukannya malah memperparah bangsa. Demo dijalan dengan anarki, menghancurkan fasilitas2 negara yang padahal itu adalah untuk kepentingan kita… oalah mengecewakan banget… kalo kayak gitu bangsa ini keliatan bodonya…



sikap untuk tidak pesimis dalam menjalani hidup
May 30, 2008, 1:08 am
Filed under: Soup Almawaqif

” Sekelompok binatang buas berkata kepada sang Singa: Tak ada perbuatan yang lebih baik daripada berserah pada Tuhan. Adakah yang lebih lancang ketimbang berpaling (dari-Nya)? Sering kita melarikan diri dari penderitaan (hanya) untuk (jatuh ke dalam) penderitaan (lain). Lepas dari ular bertemu naga.

“Ya, kata sang Singa. Namun Tuan si hamba itu menyiapkan tangga di depan kakinya.”
Selangkah demi selangkah, kita harus naik menuju atap. Menjadi Jabariyah di sini adalah (tenggelam) dalam harapan-harapan dungu.

Engkau punya kaki, mengapa kau jadikan dirimu lumpuh?
Engkau punya tangan, mengapa kau sembunyikan jemarimu?

Ketika tuannya meletakkan skop di tangan sang budak, benda itu (skop) memberitahukan (apa yang harus dilakukan) tanpa lidahnya.

Kehendak bebas adalah upaya mensyukuri anugerah-Nya. Kaum Jabariyahmu membuang hadiah (kehendak bebas) itu dari tanganmu.
Jabariyahmu seperti tidur di jalan, jangan tidur!
Jangan tertidur wahai Jabariyah yang lalai, kecuali di bawah pohon yang subur buahnya.

Karena, setiap saat angin bisa menggoncangkan tangkainya dan menjatuhkan makanan (spiritual) bagi orang tidur, dan sebagai bekal dalam perjalanan…

Jika engkau tawakal kepada Tuhan, tawakallah demi usahamu, tebarkan (benih), lalu berserahlah pada Yang Maha Kuasa.”



Murtadin Batal Buat Film Nabi Muhammad
April 2, 2008, 1:02 am
Filed under: Islamic College

Ehsan Jami, pemeluk Islam yang murtad batal membuat film tentang ‘Kehidupan Nabi Muhammad’  setelah mendapat ancaman dari Iran

ImageHidayatullah.c0m–Ehsan Jami, pendiri Komite Mantan Muslim Belanda mengatakan tidak jadi membuat film kartun berjudul ‘Kehidupan Nabi Muhammad’. Belum lama ini Menteri Kehakiman Ernst Hirsch Ballin minta Jami untuk membatalkan pembuatan film itu. Hirsch Ballin mengatakan hal tersebut hanya akan meningkatkan ketegangan antar berbagai kelompok masyarakat Belanda.

Ehsan Jami mengatakan tidak ingin menimbulkan ketegangan. Dia juga mengatakan menerima ancaman dari luar Belanda karena rencana filmnya, terutama dari Iran.

Pembatalan Ehsan ini boleh jadi meliha reaksi anggota parlemen Belanda, Geerts Wilders yang mendapat reaksi luar biasa.

Ehsan Jami adalah seorang murtadin (keluar dari Islam) yang mendadak terkenal setelah menghujat Islam.

Ehsan Jami, kini adalah anggota  partai buruh PvdA di dewan kotapraja Leidschendam-Voorburg, sebuah kota kecil dekat Den Haag. Jami berasal dari Iran dan hijrah ke Belanda bersama orangtuanya  setelah serangan 11 September 2001. Jami dilahirkan dari keluarkan liberal dan orangtuanya tak mempermasalahkan pilihan dia murtad dari Islam.

Di Belanda Jami semakin terkenal setelah sering menyerukan reformasi Islam. Ia bahkan pernah menyarankan bahwa pelawak harus bisa melawak tentang Islam.

Media Belanda, menyebutnya sebagai  “orang-orang yang berani menantang arus.” Kemarin,  Radio Nederland Wereldomroep memprofilnya sebagai portret tokoh-tokoh yang punya nyali pada tahun 2007.

Namun, sebagaimana Geert Wilders, akibat ucapannya terhadap Islam, Jami kini harus membayar mahal hidupnya. Konon ia beberapa kali diancam akan dibunuh dan terus hidup dalam pengawalan dan penjagaan 24 jam sehari. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]